Pembaca budiman
Bagi yang mengikuti Arti sejak awal terbitnya setahun lalu, tentulah melihat perubahan yang terjadi dalam beberapa edisi terakhir. Arti kini tak lagi semata-mata majalah berita seni yang memberikan halaman-halamannya untuk pelaporan pameran seni lukis, patung, pertunjukan tari, teater, film, dan berbagai peristiwa seni lainnya. Tapi, semakin membuka diri untuk konten peliputan aneka "gaya hidup".
Langkah ini dilakukan, seiring semakin membesarnya kebutuhan Arti memperbaiki geraknya sebagai produk bisnis, sekaligus meningkatkan kualitas sajian kepada pembaca. Adalah konsekwensi logis yang harus dilakoni ñ membuka peluang sebesar-besarnya ñ untuk mencapai pembaca yang semakin luas. Dan rubrikasi ìgaya hidupî, adalah pilihan konten Arti, yang cukup menjanjikan peluang peningkatan pembaca tersebut.
Meski harus buru-buru ditegaskan, sejak awal, "gaya hidup" versi Arti, tetap saja masih mengusung paradigma seni yang selama ini jadi pendekatannya. Sebab, ìgaya hidupî versi Arti ini adalah segala bentuk karya seni aplikatif, yang telah jadi bagian langsung kehidupan keseharian. Sehingga, kediriannya sebagai hasil seni, kerap dilupakan.
Itulah yang diperlihatkan Arti, melalui peliputan hotel, hangout, huni (rumah), vila, fesyen, kriya, gadget, hobi, dll. Sekaligus menegaskan: betapa seni sebenarnya ñ demikian menyatu ñ dengan kehidupan manusia umumnya. Seni bukanlah eksklusif milik (atau kegiatan) para seniman (dan pecinta seni) semata. Sebab seni adalah segala pemaknaan (dan perhitungan) artistik ñ yang selalu dilakukan manusia ñ untuk meningkatkan kualitas peradaban/kebudayaannya.
Simak saja liputan Vila edisi ini, yang mengangkat kisah MICHI (Retreat-Spa-Villas) di Bali. Wartawan kami Wayan Sunarta menyajikannya untuk Anda. Semua bangunan dan ruang di Michi, dirancang oleh pendiri dan pemiliknya, Prof. Kung, yang berasal dari Manchuria. Seorang profesor bidang Antropologi di Universitas Houston, Kyoto, dan Istambul.
Bentuk-bentuk bangunan, ornamen dan arsitektur, bahkan berbagai benda dan perkakas di Michi, menyatukan semua pengetahuan dan kenangan Prof. Kung. Konsep arsitektur Michi mengembangkan imajinasi, bermain, tanpa struktur, menghargai perbedaan, menonjolkan keunikan dan eksotika, dengan bahan alam dan dikerjakan dengan tangan. Pada beberapa bangunan, lantai dan dindingnya, sebagian besar dilapisi mosaik keramik dan cermin serta batu alam.
Nama-nama ruang di Michi pun sangat eksotis. Bangunan Villa bernama ìNagareî memadukan Timur dan Barat, ìZenî mencerminkan filosofi ajaran Zen, ìAshokaî dihiasi pernak-pernik dan ornamen India, ìMerraî berbau Rajasthan. Semua itu adalah, sebagian kekayaan desain dan arsitektur yang telah teraplikasi jadi ruang tinggal, yang siap menanti Anda.
Demikianlah, pembaca. Arti terus membuka diri untuk mengkonkretkan tagline-nya: Seni untuk Kehidupan.
Arie MP Tamba
























