Dari RedaksiTanpa seni, apa jadinya kita? Kata-kata Arnold Toynbee, guru sejarah terkemuka, masih terasa kontemporer hingga saat ini. "Dalam seluruh bidang kehidupan manusia, kebiasaan-kebiasaan selalu berubah. Bisa dipahami bahwa agama atau seni akan menjadi daya tarik tertinggi bagi pikiran manusia yang paling cakap, sebagaimana yang telah terjadi pada masa lalu dalam beragam waktu dan ruang."Toynbee melihat ketidakcukupan sains untuk mendampingi lelakuning urip kita. Baginya, sekalipun sains makin maju melangkah, prestasi-prestasinya mungkin tak akan membawanya melampaui batas-batas masa lalu dan masa depan. Pengertian kita mengenai cara kerja alam semesta ini bisa saja bertambah dari hari ke hari, akan tetapi menurut Toynbee, sains tidak mungkin membuat kita lebih memahami mengapa alam semesta ini bekerja, atau bahkan mengapa alam semesta ini ada. Tidak berarti seni lebih penting dari sains. Malahan seni justru barangkali sama sekali tak penting benar. Tapi pertanyaannya, apakah hidup kita melulu didedikasikan untuk hal-hal penting belaka. Menguap, mengupil, mengedipkan mata, menggaruk, sama sekali bukanlah hal-hal penting. Tapi kesemuanya sering menjadi katarsis kita, dan kadang-kadang lebih diperlukan ketimbang membicarakan hal-hal penting sejak debat tentang politik, demokrasi hingga kekuasaan dan endemi korupsi. Seni juga menjadi bagian katarsis kita untuk mencoba memahami pancaragam teka-teki hidup. Dari esensi itu kami mencoba menawarkan media alternatif, untuk berusaha menemani Anda menafsir teka-teki tadi melalui sudut pandang seni. Kami tidak punya pretensi untuk membatasi seni, semata cabang tertentu saja, untuk selanjutnya melupakan hal-hal lain. Seni visual, tradisi, pertunjukkan, juga desain, bagi kami punya dunia sendiri-sendiri, dan tetap tersedia ruang dan waktunya untuk diberi trafsir, dan diambil kemanfaatannya. Kami hendak memaklumkan juga, majalah ini memuat perihal gaya hidup, yang kami ekstrak dari media yang kami kelola sebelumnya: Koktail. Di dalam sesi "Koktail" terdapat beberapa bahasan, mulai fesyen hingga hiburan. Jika kemudian kami memberi bobot pada seni visual, itu lebih sebagai alasan praktis, selain untuk ikut merayakan suatu momentum. Dan momentum itu adalah peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, yang sedang dicoba diparalelkan dengan kebangkitan seni rupa kita dalam kurun waktu yang sama. Mungkin hasilnya sesuatu yang ahistoris, mengingat Boedi Oetomo andaikan ia memang proporsional dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional bukanlah organisasi yang menyuarakan seni dengan segala permasalahan di dalamnya, lebih-lebih organisasi para seniman. Kami mengenang momentum itu sekadar untuk mengingat bahwa kami berasal dari bumi yang sama: bumi yang telah diambing dagingnya oleh bangsa lain, hingga kita hanya membangun peradaban dari tulang-belulang saja. Tapi ternyata, dengan tulang-belulang pun kita masih dapat berdiri hingga hari ini. Salam, Agus Sopian Iklan dan BerlanggananJl. Pemuda No. 34, Jakarta 13220 Telp: 021-4706233 (Hunting) Fax: 021-4706354 e-mail: layanan@arti-online.com |
|
| www.arti-online.com | PT. Media Nusa Pradana copyright © 2008 | |